Mempunyai Wajah Cantik, Enak atau Nggak?

Menurut teori yang dianut oleh manusia di muka bumi, terlahir dengan wajah yang rupawan dapat menyelesaikan 50% permasalahan hidup. Tapi ternyata tidak seenak itu loh, mempunyai wajah cantik juga bisa membuat seseorang menderita.

Dibawah ini adalah penderitaan yang dirasakan perempuan berwajah cantik

1. Jarang punya sahabat cewek

Punya wajah cantik memang membuatmu populer dan banyak yang ingin berteman denganmu. Tapi nyatanya, nggak semua cewek menyukaimu, lho. Sebab, mereka bakal menjadikanmu saingan. Bahkan mereka membenci mu tanpa alasan.

2. Sulit membedakan mana yang tulus sama modus

Semakin banyak yang suka, orang ingin berteman dan mendekati kamu jadi sulit untuk dibedakan mana yang tulus dan modus. Jangan-jangan mereka cuma melihat fisikmu saja.

3. Sering dikira sombong

Semakin banyak yang ingin berteman dengan kamu, banyak pula yang akan mengiramu sombong. Sebab, tak semua keinginan orang dapat kamu jangkau. Iya kan?

4. Dianggap sengaja tampil menggoda

Jadi cewek cantik itu nggak enak deh, apa-apa pasti dianggap salah sama pihak yang nggak suka sama kamu. Tampil apa-adanya pun masih saja sering dinilai sengaja tampil menggoda.

5. Harus selalu tampil sempurna

Cewek cantik identik dengan sempurna. Makanya, menjadi cantik itu butuh usaha lebih dalam mempertahankan kecantikannya. Sekalinya si cantik ini tampil ‘kurang’, siap-siap saja deh dicemooh banyak orang.

6. Sering digodain kalau jalan sendirian

Tantangan terberat menjadi cewek cantik adalah nggak bisa bebas jalan sendirian. Si cantik harus siap-siap jadi bahan godaan laki-laki mata keranjang.

Satu referensi tentang tidak enaknya menjadi cantik, buku karya Eka Kurniawan “Cantik itu Luka”

Layanan Psikologi Gratis di Tengah pandemi COVID-19

Seperti yang kita ketahui banyaknya pemberitaan-pemberitaan mengenai wabah COVID-19 di Indonesia. Berita yang disampaikan pun tidak tau kebenarannya dan membuat masyarakat makin panik. Oleh karena itu peran psikologi sangat penting untuk menekan kepanikan masyarakat.

Oleh karena itu, HIMPSI atau Himpunan Psikologi Indonesia menyediakan konsultasi gratis secara online bagi masyarakat seluruh Indonesia

Jawa Barat

DKI Jakarta

Aceh

Lampung

Kalimantan Barat

Jawa Tengah

Jawa Timur

Papua

Sulawesi Tengah

Maluku Utara

Nusa Tenggara Barat

Bali

Seperti Squidward, Menunda-Nunda Pekerjaan Ada Seninya?

Squidward adalah gambaran makhluk yang pemalas dan suka menunda nunda pekerjaan. Walaupun begitu, ternyata kebiasaan tersebut ada kajian ilmiahnya loh secara psikologis.

Mengerjakan sesuatu pada menit-menit akhir merupakan bagian dari kearifan lokal bangsa kita yang harus diakui justru dilestarikan dari generasi ke generasi. Selain motto rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, ada satu lagi motto yang biasanya dipakai “kalau bisa besok, kepana harus sekarang?”

Seni menunda-nunda pekerjaan seperti itu dalam psikologis disebut prokrastinasi. Merupakan seni untuk tidak melakukan pekerjaan atau aktivitas yang seharusnya bisa dilakukan di depan mata saat itu juga. Hal ini merupakan pilihan sadar seseorang untuk mengerjakan hal lain yang lebih menyenangkan namun tidak dibutuhkan.

Prokrastinator seperi Squidward biasanya bangga dengan diri mereka sendiri. Ujub, takabur, narsis, merasa paling hebat sendiri. Karena meskipun selalu melakukan pekerjaan di menit-menit akhir tetap akan bisa menyelesaikan pekerjaannya. Kasus yang terjadi, sering kali sosok prokrastinator ini mendadak memiliki banyak ide dan tingkat disiplin yang tinggi dalam waktu begitu mepet. 

Hal itu yang membuat para prokrastinator sering kali jemawa dan merasa takjub dengan kemampuan dirinya.  Lalu kemudian muncul pemikiran; “Halah, kerjain mendadak begini saja bisa beres, apa salahnya menunda-nunda?”

kita harus ingat bahwa kita harus punya kontrol terhadap diri kita. Menjadi prokrastinator adalah pertarungan dengan diri kita sendiri. Kita tidak bisa menunggu untuk dibantu atau diselamatkan oleh orang lain. 

Perlu Diwaspadai, Inilah 3 Benda Sumber Penularan COVID-19

1. Barang-Barang yang Diperoleh Secara Online

Ketika kita membeli sesuatu lewat online, tentu saja kita tidak mengetahui siapa, bagaimana, dari mana barang itu di salurkan hingga sampai akhirnya sampai. Bagaimana jika barang yang kita pesan tersentuh oleh orang yang terinfeksi atau orang yang jorok? Tentunya bukan hanya kita yang mendapat akibatnya tapi orang lain yang memegang barang itu setelah yang terinfeksi pun merasakan akibatnya

2. Uang Tunai/Cash

Uang merupakan benda yang paling sering kita sentuh. Pertukaran uang dari tangan satu ke tangan lain pun sangat cepat. karena uang dipegang oleh banyak orang, berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Sehingga uang tunai bisa menjadi penularan COVID-19. Oleh karena itu itu perlu perlakuan khusus saat menggunakan uang tunai.

3. Interaksi Antara Kakek dan Cucu

ketika kakek atau nenek berinteraksi dengan cucu penularan riskan terjadi. Karena kakek termasuk kelompok berisiko yakni usia lanjut. Karenanya, untuk mencegah penularan, kakek atau nenek perlu menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker selama berinteraksi.

Harus Di Apakan Jenazah Korban Virus Corona?

Kita semua pasti sudah tidak asing lagi dengan virus yang menjadi perbincangan di seluruh dunia ini. Walaupun tidak lebih berbahaya dari SARS, tetapi korban meninggal akibat virus corona ternyata lebih banyak dibandingkan SARS pada tahun 2002-2003.

Pernahkan kalian berfikir akan diapakan pasien yang meninggal karena corona? Jika kuburkan akan ada peluang yang besar bagi si pengubur akan tertular juga.

Pemerintah China meyarankan untuk mengkremasi nya daripada menguburnya. Pemerintah China melarang pemakaman, penguburan dan kegiatan lainnya yang melibatkan jenazah korban virus corona. Jenazah mereka harus dikremasi. Hal ini dilakukan untuk memperlambat penyebaran virus.

Bagi pekerja yang menangani jenazah akibat virus, seperti pekerja pertolongan dan pekerja kamar mayat, mereka bisa terkena resiko tertular virus dari jenazah tersebut. Karena virus tersebut masih menempel di tubuh jenazah. Itulah sebabnya, pekerja yang menangani jenazah harus menggunakan perlengkapan kesehatan agar tak tertular virus tersebut.

Di Indonesia maupun Malaysia, jenazah pasien corona tetap dikuburkan. Namun tidak dimandikan, jenazah akan dimasukan kedalam body bag lalu ditayamumkan diatas balutan pelastik dan dikebumikan sesuai dengan prosedur. Tidak boleh ada keluarga yang menyentuh, memeluk, dan mencium korban untuk terakhir kalinya.

Kisah Dibalik Stockholm Syndrome

Stockholm syndrome adalah kondisi psikologis di mana korban penyanderaan malah balik bersimpati terhadap penjahat yang menculiknya. sandera yang terkena Sindrom Stockholm bisa sampai membela penculiknya dan malah menentang pihak berwajib. Pada tingkat ini, sandera biasanya enggan menyampaikan kesaksian yang bisa memberatkan sang kriminal di persidangan.

Sejarah Stockholm Syndrome

Berawal dari kisah perampokan di bank Kreditbanken, Norrmalmstorg, Stockholm, pada tahun 1973. Di hari perampokan (23 Agustus 1973), oleh pembobol brankas bernama Jan-Erik Olsson dan Clark Olofsson di pusat Kota Stockholm, Swedia.

Pada saat itu, Olsson dan Olofsson menyandra 4 orang pegawai bank di ruang brangkas. Mulai dari situ lah keanehan terjadi. Ke empat sandera tersebut mulai menjalin hubungan baik dengan kedua perampok. mereka tidak merasakan ketakutan sama sekali, menurut mereka Olsson dan Olofsson sangat baik terhadap para sandera.

Olsson sempat menggantungkan jaketnya di leher Ehnemark yang kala itu sedang menggigil kedinginan. Olsson juga berusaha menenangkan Ehnemark saat dia mengalami mimpi buruk. Bahkan si perampok memberi sebutir peluru pada Ehnemark untuk disimpan sebagai kenang-kenangan. Bahkan salah satu sandera nya menganggap bahwa Olsson dan Olofsson sebagai dewa penyelamat mereka.

Dari sanalah istilah Stockholm Syndrome mulai muncul ke permukaan, khususnya di ranah psikologi. Menurut para psikolog, Stockholm Syndrome kemungkinan disebabkan oleh insting pertahanan diri sandera dengan cara menanamkan pikiran kalau penculik sebenarnya orang baik. Pada akhirnya sandera yang terkena Stockholm Syndrome akan bersekutu dengan penyanderanya dan bersama-sama mencari jalan keluar dari situasi yang menyulitkan mereka.

Trik Melihat Karakter Seseorang Melalui Tulisan

  • Ukuan Tulisan

Jika tulisan kamu besar, itu menandakan anda memiliki keinginan lebih untuk diperhatikan. Sebaliknya, jika tulisan anda kecil berarti anda tidak orang yang tertutup dan tidak suka menjadi pusat perhatian.

  • Arah Tulisan

Tulisa yang tidak miring sama sekali menandakan anda orang yang logis. Namun jika tulisan anda condong ke kanan artinya anda orang yang sentimental dan sangat mencintai keluarga. Jika tulisan anda condong ke kiri, menandakan anda orang yang yang pendiam dan lebih suka benda atau binatang dibanding orang.

  • Penekanan Tulisan

Jika anada memiliki tekanan yang kuat dalam menulis menandakan anda orang yang memiliki emosi yang kuat. Sementara jika tulisan anda memiliki penekanan yang normal menandakan anda dapat mengontrol emosi dan tidak larut dalam stres dan sedih.

  • Bentuk Tulisan

Lihatlah cara menulis Anda, misalnya “As” dan huruf kecil “Ns.” Jika puncak huruf-huruf itu bulat, maka itu berarti Anda orang yang kreatif dan artistik. Jika tulisan lebih lancip, itu berarti Anda cerdas, intens, dan agresif.

Sudah Tahu Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Banyak awam yang salah kaprah mengenai psikolog dan psikiater dan menganggap keduanya sama karena menyangkut masalah kejiwaan. Sebenarnya apa yang membedakan kedua profesi tersebut?

Kalau mau singkatnya penjelasan gampangnya seperti ini, psikiater boleh memberikan obat sedangkan psikolog tidak boleh memberikan obat.

Sedangkan jika lihat dari latar belakang pendidikan, psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog.

Sedangkan psikiater adalah dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa.

Kedua profesi ini pun memiliki konsentrasi praktik yang sama, berupa upaya penanganan, pencegahan, pendiagnosaan dan pemberian terapi.

Namun, yang paling membedakan di sini adalah dalam hal pemberian terapi obat-obatan (farmakoterapi). Terapi obat-obatan ini hanya boleh dilakukan oleh psikiater, yang notabene berlatar belakang kedokteran yang lebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Sedangkan psikolog lebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).

Namun dalam pelaksanaannya, baik psikolog maupun Psikiater dapat saling bekerja sama. Psikolog dapat mereferensikan kliennya untuk berkonsultasi pada psikiater atau ahli lainnya bila dirasa ada hal yang perlu ditangani lebih lanjut, maupun sebaliknya. Hal ini tergantung pada kasus atau permasalahan yang dihadapi klien dan tergantung pada aspek mana yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Psikopat atau Narsistik?

Semua orang pasti sudah tau kasus yang sedang booming ini. Yap, Kasus remaja berusia 15 tahun yang membunuh balita 5 tahun di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa dia adalah seorang psikopat tanpa mengetahui apa arti dari kata psikopat itu sendiri. Banyak orang yang berpikir bahwa orang yang suka membunuh itu sudah pasti psikopat.

Padahal sebetulnya, beberapa psikopat ada yang dapat terlihat normal dan bahkan memiliki kehidupan yang sukses. Namun, mereka cenderung akan melakukan manipulasi atau melakukan berbagai perilaku yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam ilmu kedokteran psikopat adalah suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial. Psikopat merupakan salah satu kelainan psikis yang mengerikan. Psikopat termasuk bagian dari gangguan kepribadian yang dapat ditandai dengan perilaku antisosial, impulsif, tidak mengikuti atau mengabaikan norma di dalam masyarakat, serta tidak memiliki perasan takut ataupun bersalah.

Dalam kasus ini, si ‘pembunuh’ lebih menonjolkan sifat narsistiknya. Terlihat dengan adanya postingan postingan dia di facebook mengenai tindakan pembunuhannya. Mencirikan bahwa dia ingin ‘pamer’ atas apa yang berhasil dia lakukan.

Berbeda dengan psikopat yang justru cenderung mengaku ketika orang lain tau kesalahan dia. Si pelaku malah merasa bangga, dan menceritakannya se-detail mungkin karena dia merasa hebat.

Tapi tidak dapat dipungkiri jika kedepannya dia akan menjadi seorang psikopat karena dia terus hidup di bawah bayang bayang fantasinya dan dibiarkan kesepian.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai