Trik Melihat Karakter Seseorang Melalui Tulisan

  • Ukuan Tulisan

Jika tulisan kamu besar, itu menandakan anda memiliki keinginan lebih untuk diperhatikan. Sebaliknya, jika tulisan anda kecil berarti anda tidak orang yang tertutup dan tidak suka menjadi pusat perhatian.

  • Arah Tulisan

Tulisa yang tidak miring sama sekali menandakan anda orang yang logis. Namun jika tulisan anda condong ke kanan artinya anda orang yang sentimental dan sangat mencintai keluarga. Jika tulisan anda condong ke kiri, menandakan anda orang yang yang pendiam dan lebih suka benda atau binatang dibanding orang.

  • Penekanan Tulisan

Jika anada memiliki tekanan yang kuat dalam menulis menandakan anda orang yang memiliki emosi yang kuat. Sementara jika tulisan anda memiliki penekanan yang normal menandakan anda dapat mengontrol emosi dan tidak larut dalam stres dan sedih.

  • Bentuk Tulisan

Lihatlah cara menulis Anda, misalnya “As” dan huruf kecil “Ns.” Jika puncak huruf-huruf itu bulat, maka itu berarti Anda orang yang kreatif dan artistik. Jika tulisan lebih lancip, itu berarti Anda cerdas, intens, dan agresif.

Sudah Tahu Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Banyak awam yang salah kaprah mengenai psikolog dan psikiater dan menganggap keduanya sama karena menyangkut masalah kejiwaan. Sebenarnya apa yang membedakan kedua profesi tersebut?

Kalau mau singkatnya penjelasan gampangnya seperti ini, psikiater boleh memberikan obat sedangkan psikolog tidak boleh memberikan obat.

Sedangkan jika lihat dari latar belakang pendidikan, psikolog adalah sarjana psikologi yang telah mengikuti program akademik strata satu (sarjana psikologi) dan program profesi sebagai psikolog.

Sedangkan psikiater adalah dokter spesialis yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu (sarjana kedokteran), pendidikan profesi sebagai dokter dan pendidikan spesialisasi kedokteran jiwa.

Kedua profesi ini pun memiliki konsentrasi praktik yang sama, berupa upaya penanganan, pencegahan, pendiagnosaan dan pemberian terapi.

Namun, yang paling membedakan di sini adalah dalam hal pemberian terapi obat-obatan (farmakoterapi). Terapi obat-obatan ini hanya boleh dilakukan oleh psikiater, yang notabene berlatar belakang kedokteran yang lebih banyak berkecimpung pada penanganan secara klinis. Sedangkan psikolog lebih fokus pada aspek sosialnya, seperti memberikan penanganan berupa terapi psikologi (psikoterapi).

Namun dalam pelaksanaannya, baik psikolog maupun Psikiater dapat saling bekerja sama. Psikolog dapat mereferensikan kliennya untuk berkonsultasi pada psikiater atau ahli lainnya bila dirasa ada hal yang perlu ditangani lebih lanjut, maupun sebaliknya. Hal ini tergantung pada kasus atau permasalahan yang dihadapi klien dan tergantung pada aspek mana yang perlu ditangani terlebih dahulu.

Psikopat atau Narsistik?

Semua orang pasti sudah tau kasus yang sedang booming ini. Yap, Kasus remaja berusia 15 tahun yang membunuh balita 5 tahun di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa dia adalah seorang psikopat tanpa mengetahui apa arti dari kata psikopat itu sendiri. Banyak orang yang berpikir bahwa orang yang suka membunuh itu sudah pasti psikopat.

Padahal sebetulnya, beberapa psikopat ada yang dapat terlihat normal dan bahkan memiliki kehidupan yang sukses. Namun, mereka cenderung akan melakukan manipulasi atau melakukan berbagai perilaku yang tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dalam ilmu kedokteran psikopat adalah suatu gangguan kepribadian yang ditandai dengan sikap tidak sensitif, kasar, manipulatif, mencari sensasi dan antisosial. Psikopat merupakan salah satu kelainan psikis yang mengerikan. Psikopat termasuk bagian dari gangguan kepribadian yang dapat ditandai dengan perilaku antisosial, impulsif, tidak mengikuti atau mengabaikan norma di dalam masyarakat, serta tidak memiliki perasan takut ataupun bersalah.

Dalam kasus ini, si ‘pembunuh’ lebih menonjolkan sifat narsistiknya. Terlihat dengan adanya postingan postingan dia di facebook mengenai tindakan pembunuhannya. Mencirikan bahwa dia ingin ‘pamer’ atas apa yang berhasil dia lakukan.

Berbeda dengan psikopat yang justru cenderung mengaku ketika orang lain tau kesalahan dia. Si pelaku malah merasa bangga, dan menceritakannya se-detail mungkin karena dia merasa hebat.

Tapi tidak dapat dipungkiri jika kedepannya dia akan menjadi seorang psikopat karena dia terus hidup di bawah bayang bayang fantasinya dan dibiarkan kesepian.